Tuesday, August 31, 2010

Tuhan dan Sarang Kepercayaan




















[Anthony de Mello dalam Berbasa-Basi Sejenak halaman 38]

Seorang atheis bertanya, "Apakah Tuhan itu sungguh-sungguh ada?"

Lalu Sang Guru menjawab, "Jika kamu menginginkan saya sungguh-sungguh jujur, saya tidak akan menjawab."

Para muridnya penasaran, mengapa Sang Guru tidak menjawab. Kemudian kata Sang Guru, "Karena pertanyaannya tidak dapat dijawab."

"Jadi, Guru juga atheis?", tanya para murid.

"Tentu saja tidak. Orang atheis membuat kesalahan karena menyangkal kenyataan yang tidak mungkin dijelaskan.", jawab Sang Guru.

Setelah diam sejenak, ia menambahkan, "Dan orang theis membuat kesalahan karena mencoba menjelaskannya."























[Anthony de Mello dalam Berbasa-Basi Sejenak halaman 154]

Karena cemas akan kecenderungan Sang Guru untuk menghancurkan setiap pernyataan kepercayaan pada Tuhan, seorang muridnya protes, "Saya jadi tidak punya sesuatu pun untuk dijadikan pegangan."

Sang Guru menjawab, "Itulah yang dikatakan oleh anak burung ketika ia dipaksa keluar meninggalkan sarangnya!"

Lalu lanjutnya lagi, "Apakah kamu berharap bisa terbang sementara kamu dengan aman tinggal di sarang kepercayaan-kepercayaanmu? Itu sih bukan terbang, namanya... tapi cuma mengepakkan sayap!"

Agama dan Jari











































Sang Guru berkata,

"Kepercayaan dan agama bukanlah pernyataan akan Realitas, tetapi sebuah petunjuk, yang mengarahkan pada sesuatu yang tetap merupakan suatu misteri. Misteri itu melampaui pemahaman akal budi manusia. Pendeknya, kepercayaan dan agama hanyalah sebuah jari yang menunjuk pada bulan.

Beberapa orang beragama tidak pernah beranjak lebih jauh dari mengamati jari belaka.

Yang lain malah asyik mengisapnya.

Yang lain lagi menggunakan jari untuk mengucek mata.
Inilah orang-orang fanatik yang telah dibutakan oleh agama.

Sangat jarang penganut agama yang mampu mengambil jarak dari jari mereka untuk dapat melihat apa yang ditunjuk [yaitu bulan]. Mereka inilah yang, karena melampaui kepercayaan mereka, justru dianggap sebagai penghujat."


**
HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAAA... Edaaaaan!
Gue ngakak saking super salutnya sama kecerdasan sang penulis.
Yep, fragmen tersebut ada di halaman 152 buku berjudul Berbasa-Basi Sejenak 1 karya Anthony de Mello yang diterbitkan oleh Penerbit Kanisius.

"Sang Guru" dalam tulisan-tulisan beliau bukanlah satu orang pribadi saja.
Bisa jadi, dia adalah seorang guru Hindu, pertapa Zen, guru Tao, rabbi Yahudi, ato seorang rahib Kristen.
Anthony de Mello sendiri adalah seorang Pastor yang berkarya di India.

Saturday, August 28, 2010

Slick Serpent - A One-Way Dialogue




















There you go, smart-ass...
You've got the tail, now get the head! >:)

Unfortunately, the head is no-bloody-where to be found! Bollocks!
It's just the tail and less than a quarter of the body.
My hypothesis is that... this is a double-headed snake,
with another branch of head in one of its heads!
Whoa! And I'm usually right! ;)

To keep itself well-disguised, this peculiar snake changes its skin periodically.
No trace of skin remnants can be found. Slick!
Oh, and different head only appears to different people.
This serpent is a total pro!
But the venom is pretty much the same...
.

Wednesday, August 25, 2010

Jejak


Diperlukan kejelian untuk melacak jejak yang tersebar acak,
dan diperlukan kecepatan untuk mengabadikan tiap torehan,
sebelom semua mendadak lenyap, seiring datangnya senyap...
Bagi arkeolog, jejak adalah sumber informasi.
Bagi galeri, jejak adalah koleksi yang layak dikurasi.
Bagi gue, jejak adalah barang bukti, yang bagus untuk dipelajari...

***
Euh, tapi kalo kata sobat gue, "jejak" adalah jejaka jantan dan kekar...
HAHAHAHAHAHAHAAAA...
.

Monday, August 23, 2010

Waktu


habis gelap terbitlah terang...
habis terang terbitlah gelap...
waktu adalah sesuatu yang swa-sirkular sekaligus linear...
.

Sunday, August 22, 2010

Habis Gelap Terbitlah Terang...

@heyhega:
My hands are darker than my legs, and my face is darker than my hands. What a gradation!

@p_wegas:
Ur hands r darker than ur legs, ur face is darker than ur hands. But ur heart is brighter than all, that could show me d way of truth

HAHAHAHAHAHAHAAA...
Pauuuuuuuuul... lo emang nggak ada matinye deh, cyiiiiiin...
Cintaaaaa deh gue ama looooo... *kechupssss*

A casual conversation in an afternoon with Paul a.k.a. Pancen Gaul a.k.a. Daddy P!
Hahahahahaaa...

Tuesday, August 17, 2010

Apa kabar, Pa?


"Gue mimpi dibeli'in bubur ayam dan kue-kue sama Papa. Tapi gue nggak tau itu di mana, gue nggak kenal tempat itu, dan Papa juga nggak ngomong apa-apa selain nanya: "Mau beli apa, dek?" Terus di sekeliling Papa tuh gelap, cuma jalanan yang dilewatin Papa aja dan yang di pinggir-pinggirnya terang kar'na banyak lampu jalanan. Habis itu gue bangun sahur..."

Adik gue cerita tentang mimpinya sebelom waktu sahur kemaren.
Apa kabar, Pa? Saya selalu berdoa untuk Papa...

:'(

TKI

Ini dia nih... lowongan pekerjaan yang bikin gue tergoda untuk jadi TKI saking menariknya. Padahal sederhana, lho! Tapi justru itu, iklan berikut ini berhasil bikin gue super tertarik. Ehm, lebih baik TKI-nya diartikan sebagai Tenaga Kerja Internasional aja kali, yaaa...



French designer M****** L******** is looking for a product and interior designer to join his studio in Paris:

If you have two hands and a brain,
If your brain controls your hands,
If, in a single day, you can switch from a one-off object to a mass market product, to an interior design project,
If you can lead a conference call in French and English,
If your ideal bookcase doesn’t only contain design books,
If you can understand and start to work from a bad sketch sent from an iPhone,
If you can transform it into a great and smart 3D rendering,
If you can switch off your computer during the day to make a more efficient paper mock-up,
If you can hear "This is not good, we have to change everything", without crying,
If you are happy to be here and if it is visible in your eyes,
If you want to join the team,
If you are available from next October to ...
You’re welcome, my friend!


Please send applications to pierre@***.com

Karna gue sangat amat menginginkan pekerjaan tersebut, dengan terpaksa gue harus merahasiakan beberapa informasi di dalamnya... Tapi sayangnya, gue nggak bisa bahasa Perancis, euy! Dan belom lulus, pula...

T___T

Monday, August 16, 2010

Takut!

Kemaren sore [Minggu, 15 Agustus 2010] gue mengikuti misa di Kapel belakang Rumah Sakit Santo Borromeus, Bandung. Ibadah dimulai jam 17.00. Umat pun berdiri sambil bersama-sama menyanyikan lagu pembukaan [termasuk gue].

Di tengah lagu, tiba-tiba kepala gue terasa kayak orang darah rendah yang mendadak berdiri dari posisi jongkok! Bukan vertigo, tapi gue ngerasa keknya darah di kepala gue mengalir turun. Ketika alirannya terasa makin deras, gue ngerasa denyut jantung gue keknya melambat dan gue pun mulai sesak napas. Otak gue berisik banget waktu itu, sibuk memberi komando di berbagai layer...

"Lho? Ini kenapa ini? Lo nggak kena darah rendah ato anemia, kan???"

"Lho! Lho! Lho! Kok ngalirnya makin deres, ya??? Ya Tuhan! Pegangan, Hega! Pegangan yang kuat! Jangan sampe jatoh! Jangan sampe pingsan! Pokoknya jangan ngerepotin orang laen!"

"Tuhan, kuatkan aku... Tuhan, kuatkan aku... Tuhan, kuatkan aku... Tuhan, kuatkan aku... Tuhan, kuatkan aku... Tuhan, kuatkan aku..."

"Do you feel it? Keknya denyutnya melambat nggak, sih? Duuuh, kenapa ini Tuhan?"

"Tuhan, ampuni aku... tapi kalo boleh, jangan panggil aku sekarang..."

"Is this what Daddy felt in the seconds he was about to pass away? Semoga Papa nggak kesakitan ya, Tuhan..."

"Astaga!!! Tarik napas! Tarik napas! Buka mulut! Hirup udara sebanyak mungkin! Lewat hidung doang nggak akan cukup! Tarik napas terus, jangan berenti! Tetep stabil, cek denyut jantung!"

Setelah aliran darah di kepala mulai terasa agak reda dan gue tetep masih bisa bernapas teratur dengan sedikit bantuan mulut, tiba-tiba kuping gue terasa kayak berdenging [tinnitus]. Selama serangan terjadi, gue nggak berani merem karna takut malah jatoh ato pingsan [seumur hidup, gue belom pernah pingsan]. Akhirnya setelah beberapa saat, semua mereda. Tapi kaki gue masih gemeteran.

Hari itu gue bisa mengikuti ibadah [misa] sampe selesai dan pulang ke kost dengan selamat. Setelah misa, gue mampir ke toilet cewek di lobby Rumah Sakit Santo Borromeus untuk cuci tangan, karna sabun cuci tangan di situ wanginya enak. Gue suka [dan penasaran, merknya apa].

Lord, what was that?
I'm [still] afraid to die...


Mata


Jangan [cuma] percaya pada mata.
Kita punya banyak indera lainnya,
yang bahkan bisa lebih dari lima...
.

Saturday, August 14, 2010

Triumphant


This is a triumphant requiem for my Dad on his way back to The Lord.
I miss him a lot here...
T___T


My Hero[e] in Memoriam - Part 1

Hari ini, tepat seminggu yang lalu, Tuhan memanggil Papa secara mendadak.
Adik gue nelpon hari Minggu [8 Agustus] dini hari sekitar jam 1.30 pagi, mengabarkan obituari.
Reaksi gue adalah shock. Nggak percaya. Nggak rela. Nggak bisa nangis tapi gemeteran.
Setelah nyokap nelpon gue buat nanya gimana gue bisa pulang sesegera mungkin ke Bekasi, gue baru nyadar bahwa berita itu bener dan langsung packing sambil nangis sampe mata gue bengkak.

Orang yang pertama kali gue kabarin adalah Prof. Gyro Gearloose, yang baru pulang dari kost gue sekitar jam 12.30 pagi. Doi dan Topan, sohibnya, maen ke kost gue jam 22.30 [Sabtu, 7 Agustus] tapi Topan cabut duluan kar'na udah ditungguin temennya. Begitu gue SMS, si Prof langsung nelpon gue dan berkoordinasi dengan Nunoy [di Jakarta] untuk nyari'in gue transportasi tercepat ke Bekasi. Tumben banget jam segitu belom tidur, Prof! Padahal biasanya kan jam 9 malem aja doi udah tidur nyenyak kayak anak-anak...

Awalnya gue berencana mo naek Argo yg berangkat jam 5.30 dari stasiun Bandung, tapi perjalanannya bakal lama dan jam segitu angkot dari kost gue ke stasiun belom ada. Jadi akhirnya setelah nelpon gue secara kontinyu sambil terus berkoordinasi dengan si Prof, Nunoy menyarankan gue untuk naek travel. Pokoknya pagi itu Nunoy lah manajer gue! Semua diatur dan dibereskan oleh Nunoy. Si Prof jemput gue ke kost jam 4.30 pagi dan kami [gue, Sufty, si Prof] jalan kaki super ngebut ke pool Xtrans Travel di Jalan Cihampelas.

Gue, Nunoy, dan si Prof jelas jadi sama sekali nggak tidur. Minggu dini hari itu, gue dibantu oleh banyak pihak. Matur nuwun sanget untuk Iyus dan Pak Gamesh yang udah nelpon gue dan membantu nyari travel. Hatur nuhun juga buat Sufty dan Agah [kakaknya Sufty, tapi gue anggep kakak gue juga]. Sekitar jam 2.00 pagi, Sufty langsung nelpon dan dateng ke kost gue dianterin Agah. Terus Sufty nemenin gue, bahkan sampe ikutan ke rumah gue di Bekasi.

Sayangnya Xtrans nggak berenti di Bekasi. Pool terdekatnya ada di Jatiwaringin dan Nunoy jemput kami di sana. Kami pun sambung-menyambung naek angkot ke rumah gue. Puji Tuhan, perjalanan lancar. Kami sampe di rumah gue sekitar jam 8.30 pagi. Trims juga untuk Natsir yang bersedia dateng ke rumah gue pagi itu.




Sampe di rumah, Papa lagi dimandikan. Gue nangis parah. Rasanya kayak ada yang dicabut paksa dari dalam dada. Petarung sejati yang tampan itu kayak lagi tidur biasa aja. Bedanya, tubuh beliau udah kaku dan kulitnya yang memang legam memucat hingga tampak agak kelabu...

Ternyata beliau meninggal dalam perjalanan menuju Rumah Sakit, sekitar jam 23.30 hari Sabtu [7 Agustus]. Diagnosis dokter adalah kena serangan jantung. Heran juga gue. Sebelomnya, Papa nggak pernah ada keluhan ato masalah dengan jantungnya. Penyakit beliau awalnya cuma hipertensi. Itu pun jarang kumat. Lalu ternyata ketauan bahwa beliau mulai kena asam urat dan belakangan kadar gula darahnya mulai meningkat. Tapi sama sekali belom pernah ada serangan apa pun [mis. stroke, gagal ginjal, dll] dan kami memang berusaha mencegah hal itu terjadi.

Rupanya baru-baru ini Papa sering ngerasa nyeri di ulu hati. Beliau mengira itu cuma masuk angin biasa yang bakal sembuh dengan sendirinya, dan beliau cuma mengoleskan balsem di dada biar hangat. Ya ampun Pa, tau gitu kan dari awal diperiksakan ke dokter... but it's too late now.




Selesai dimandikan, jasad Papa dibungkus kain kafan dan dibaringkan di ruang depan. Wajahnya tetap tampan. Profil wajah beliau yang familiar, mengingatkan gue pada Koes Hendratmo, George Clooney, dan se-cool Nicholas Cage. Gue mencium pipi dan dahi beliau yang dingin sebelum wajahnya ditutup kafan dan jasadnya dibawa ke mesjid untuk disholatkan.

Yep, agama yang tercantum di KTP Papa [juga di KTP Mama dan adik gue] adalah Islam. Tapi beliau SELALU MENDUKUNG gue untuk rajin ke Gereja dan sering menasihati gue untuk menjiwai ajaran Sang Teladan dalam kehidupan nyata. Beliau juga sering nganterin gue ke Gereja pagi-pagi pake motor butut kami satu-satunya. Kata beliau, biar nyampe Gerejanya nggak telat, soalnya jarak dari rumah ke Gereja gue cukup jauh.

Gue sangat salut dengan pemikiran Papa yang moderat. Dan gue bersyukur Papa bukan meninggal akibat kecelakaan [mengingat pekerjaan beliau sangat riskan], hingga jasadnya tetap utuh dan bagus. Bener-bener sosok Papa yang sama, yang dulu [sebelom gue kost di Bandung] sering gue amati, awasi, dan perhatikan ketika beliau tidur lelap, guna memastikan napasnya teratur dan denyut jantungnya stabil.

Sempat terlintas dalam pikiran gue waktu itu, gimana kalo suatu saat sosok yang tidur lelap ini nggak bernapas lagi dan denyut jantungnya berenti. Kalo udah begitu, gue langsung berdoa dalam hati... mendoakan keselamatan dan kesehatan untuk Papa. Tapi ternyata Tuhan punya rencana sendiri.

Bahkan setelah menempuh perjalanan panjang selama 12 jam menuju liang lahat Papa di Klaten, nggak tercium bau aneh dari jasad Papa walopun nggak diformalin sama sekali. Yang ada malah wangi bebungaan, dedaunan, pandan, minyak airmata duyung, dan kamper.

Papa emang demen yang wangi-wangi. Beliau selalu suka wewangian yang gue pake, dan kami selalu pake wewangian yang sama [jadi gue selalu beli 2 botol, satu buat gue, satu buat Papa]. Mulai dari l'Eau d'Issey-nya Issey Miyake dan Tommy Girl-nya Tommy Hilfigher, sampe She Refreshing Splash Cologne yang Party [botol ungu] dan Belia Spray Cologne yang botol orange. Waktu gue bilang, "Lho, ini kan parfum buat cewek, Pa...", bokap gue cuma jawab, "Ah, ya nggak pa-pa... wong enak kok wanginya. Sedep!"




Setelah melaju dengan kecepatan 80-100 km/jam lewat jalur Pantura, kami akhirnya tiba di pemakaman. Berangkat dari Bekasi sekitar jam 10 pagi dan tiba di lokasi sekitar jam 10 malem. Semua udah disiapkan dan Papa segera dimakamkan. Nggak ada kendala yang berarti. Puji Tuhan.

Sepanjang perjalanan, hampir semua penumpang ketar-ketir [kecuali gue]. Solar plexus mereka berdesir. Maklum, sambil ngebut, kami harus zig-zag menghindari [baca: mendahului] truk-truk besar sarat muatan yang juga ngebut di jalur Pantura. Nggak sedikit kecelakaan dan truk oleng ato terbalik yang kami liat di sepanjang jalan. Untung sopir Ambulans dan sepupu gue yang nyetir mobil pengantarnya super jago!

Setelah proses pemakaman selesai, nyokap gue sempet protes ke sopir Ambulans,
"Ya ampun Mas, jangan terlalu ngebut, napa! Ngeri bener!"

Dan si sopir Ambulans ternyata jawab,
"Wah, tadi mah nggak ada apa-apanya, Bu! Kalo Pak Heru [baca: bokap gue] yang bawa mah lebih ngebut lagi. Lebih jago dia daripada saya."

Nyokap gue sampe bengong. Nggak percaya,
"HAH??? Mosok, sih? Kayaknya kalo sama saya nggak gitu, deh. Nyetirnya aluuuuus banget sampe saya ketiduran terus tau-tau nyampe aja."

Gokil. Dari situ gue baru tau. Bokap gue jago nyetir [baca: jago ngebut]!!! Entah karna tuntutan pekerjaan ato emang bakat alam. Yang jelas, gue pengen belajar nyetir sampe jago kayak Papa. Jadi bisa fleksibel: nyetir alus dan ati-ati kalo lagi sama Mama, tapi bisa ngebut dengan SANGAT ahli [BUKAN dengan grasak-grusuk ato ngegas dan ngerem mendadak] bila diperlukan ato dalam keadaan mendesak.

Ada untungnya juga ngebut gila-gilaan dalam perjalanan menuju pemakaman. Nyokap [dan Budhe gue] terdistraksi sesaat karna sibuk komat-kamit berdoa biar selamat dan jadi nggak nangis parah. Gue sendiri juga sebenernya nahan tangis, karna kalo gue nangis, kemungkinan besar nyokap bakal ikutan. Jadi gue cuma diem sambil mengintegrasikan pikiran dan feeling seolah-olah gue yang lagi nyetir [sambil mempelajari sistem pengambilan keputusan para pengemudi selama ngebut dan zigzag], mengatur napas biar stabil, pokoknya tau-tau aer mata gue ngalir gitu aja tanpa sepengetahuan Mama di kanan gue dan Budhe di kiri gue.

-- Bersambung --

Sunday, August 8, 2010

Obituari

Barusan banget adek gue nelepon.
Nggak biasanya.
Ini dini hari. Masih sekitar jam 1.30 pagi.
Ternyata dia mengabarkan obituari...

PAPA SAYA MENINGGAL.
TUHAN, TUHAN, INI NGGAK LUCU!
TUHAN... APA-APA'AN INI?
SAYA NGGAK TERIMA!!!

Saturday, August 7, 2010

Jaga Jarak


Hmmm... kenapa terasa seperti ada jarak?
Oh, mungkin memang perlu jaga jarak...
Biar nggak terjadi saling tabrak.
Dan bisa tetep bebas bergerak.

Ah, apalah arti jarak di jaman kayak gini?
Menurut seorang teman, gender adalah ilusi.
Tapi menurut gue, jarak adalah ilusi.

Hati-hati bermain dengan ilusi, rawan halusinasi...
;)
.

Wednesday, August 4, 2010

Sudden Safari in a "Safari" :D

Trip dadakan ini berlangsung pada Selasa, 3 Agustus 2010.
Awalnya Ganisya dan Ganesha [Ganis dan Echa] cuma mo nganterin Vitha ke pool bus Kramat Djati di Jln. Ambon. Biasa lah, masalah mahasiswa yang udah wisuda: Ngangkut barang dan bingung apakah harus pulang! Hahaha... Malah tadinya gue nggak ada rencana ikut, karena Vitha cuma janjian sama Ganis-Echa sekalian untuk ngangkut barang dari kost ke bus. Tapi ternyata nggak jadi. Dan entah gimana, tau-tau gue udah ada di dalem VW Safari-nya Echa! Wkwkwkwk... Jadi lah kami rame-rame menuju Jln. Ambon... :D


Ganesha's 1972 Volkswagen Safari

Ini adalah pertama kalinya gue naek VW Safari seumur hidup! Hehehe... norak, ye. Awalnya atap soft-top si Safari ditutup karena langit Bandung dirundung mendung dan udah mulai gerimis. Tapi setelah gerimisnya berenti, kap soft-top dan jendela pun dibuka! Horeeeeeeee... [makin norak].

Setelah semua urusan di Jln. Ambon beres, kami pun lu-la [luntang-lantung] nggak jelas mau ke mana, sampe akhirnya Ganis mencetuskan ide untuk cabut ke Lembang, yang langsung disetujui umat semobil. Lalu kami mampir dulu ke kost Echa untuk ngambil jaket dan kamera. Ternyata Ino nelpon dan pengen gabung! Hohohoho...

Perjalanan ke Lembang dilalui via Cieumbuleuit, sekalian jemput Ino di pertigaan Gandok. Sayangnya, hujan turun deres banget! Jadi atap Safari terpaksa kami tutup. Pokoknya hari itu hujannya labil banget, deh! [Maklum, cuaca mendung] Dan kami pun terpaksa berkali-kali buka-tutup atap Safari.

Sampe di wilayah Lembang, kami mampir ke Tahu Tauhid. Lumayan, tahu goreng anget untuk ganjel perut, plus susu segar untuk obat pedes. Murah meriah! Dari kejauhan, kami liat beberapa bapak peserta tur yang udah memutih rambutnya mengerubungi si Safari yang diparkir nggak jauh dari tour bus mereka. Keliatannya sih mereka mengagumi mobil convertible antik ini. Hihihi... Dan mereka menatap kami dengan pandangan antara kagum sekaligus iri dan nggak percaya ketika kami menaiki si Safari untuk melanjutkan perjalanan... :D

Saat itu lah Echa cerita bahwa pernah ada orang yang berminat memiliki si Safari dan mau membarternya dengan Toyota Land Cruiser [TLC] hard-top keluaran taun '60-an, tapi ditolak. Padahal Echa membeli Safari-nya hanya seharga 5 juta! Susah ye kalo udah cinta sama mobil sendiri...


Di Tahu Tauhid | Kiri-kanan: Ino, Vitha, Ganis, gue | Fotografer: Ganesha


Perjalanan pun kami lanjutkan sampe ke daerah Maribaya! Yuhuuu... view-nya ajib beraaaaat... Tadinya kami mau meneruskan perjalanan via daerah yang belom pernah kami lewatin, yaitu lewat perkebunan yang melalui Gunung Kasur dan tembus di Ujung Berung, tapi nggak jadi karena jalanannya jelek.

Sebenernya Echa udah mengganti ban si Safari dengan ban yang bisa dipake buat off-road, tapi Ganis keukeuh puter balik karena dia takut mengalami kejadian yang sama. Ternyata dulu Ganis-Echa pernah lewat jalanan yang jelek juga di sekitar Lembang, terus mendadak mesin si Safari mati! Waktu itu udah sekitar jam 9 malem... Ganis panik berat. Echa-nya sih [berusaha] santai. Akhirnya mesin Safari pun nyala lagi dan mereka melanjutkan perjalanan. Setelah sampe di tujuan, Echa baru cerita ke Ganis kalo sebenernya pas mesinnya mati tadi tuh dia denger ada anak kecil yang nangis!!!! Nah lohhhh...


Geng Depan | Kiri-Kanan: Ganisya, Ganesha | Fotografer: Vitha
Geng Belakang | Kiri-Kanan: Vitha, gue, Ino | Fotografer: Ganis
Menerabas Gerimis di Lembang | Fotografer: Ganis bukan, ya?
Ngebut!! | Fotografer: Vitha
Ganesha Subhi Wardhana | Fotografer: Ganisya Ramadhani Gunardi

Sebelom pulang, kami makan sambil menikmati sunset dengan view Bandung dari atas di Tabuga yang berada di daerah Punclut. Di sana gue sempet "megap-megap" kalap karena ada Land Rover Defender merah, Jeep Cherokee Limited hitam, Jeep Wrangler Sport kuning, dan Jeep Willys army green yang parkir di sekitar Safari. Gimana nggak kalap, wish-list 4WD gue ngumpul di situ semua... :D

Terima kasih banyak untuk pasangan Ganis-Echa atas trip dadakan yang fun dan menyenangkan hari itu. Trims juga buat Vitha dan Ino, temen seperjalanan yang asik abeeeeeessss!! Next trip ke mana, nih? Karimun Jawa? Atur-atur lah ya, semoga gue bisa ikut! AMIN.

Monday, August 2, 2010

The Moment


I wish I could stop the clock from ticking, so that this moment can be frozen, like, forever... but sadly time goes on as always, and left nothing but memories. Thank you so much for this memory. Tonight is the moment I really treasure for it's been [sooooo] hard to be with only you! :)

Keep roaring, Lion!
You know where and how to find me if you ever need a Lioness...
Hahaa... :D