Wednesday, August 21, 2013

"madu beracun"











































semua madu pasti beracun.
tentu saja, konteksnya bukan madu yang dihasilkan oleh lebah, tetapi madu dalam arti perempuan lain yang BERSEDIA dipuja—bahkan dicinta—diam-diam oleh lelaki yang sudah lebih dulu terikat komitmen resmi dengan perempuan lainnya. dengan kata lain, "madu beracun" adalah perempuan selingkuhan.

gue sendiri secara pribadi sangat amat antipati sama yang namanya perselingkuhan. selain karena hal itu melanggar komitmen yang sudah dibuat [baca: membohongi diri sendiri], implikasi dampaknya bakal dirasakan oleh banyak pihak! coba deh, bayangin gimana rasanya kalo kalian tau bahwa pacar, suami, atau istri kalian berselingkuh. terus, bayangin juga gimana kalo kalian adalah anak dari orangtua yang berselingkuh. apa rasanya nggak pengen banget nampar, nyakar, menjambak, atau bahkan menikam sampai mati si selingkuhan yang pasti dianggap pihak penggoda? sakit hati banget, 'kan? semacam campuran antara rasa sedih, kecewa, nggak percaya sekaligus kesel, yang membuncah dalam amarah dan lambat laun menyisakan kebencian, kecurigaan [sulit percaya lagi], hingga rasa jijik sebagai residunya.

untuk seorang anak, mendapati orangtuanya berselingkuh bisa jadi merupakan kejadian traumatis yang [tanpa disadari] akan terus membekas dan membayanginya sepanjang hidup. beban emosional si anak jadi lebih berat, karena ia harus berhadapan dengan kondisi emosional orangtua yang ditinggal selingkuh, sekaligus harus menghadapi kekecewaannya sendiri terhadap orangtua yang berselingkuh. sebagai mekanisme pertahanan, secara alamiah si anak kemungkinan besar akan kehilangan rasa respeknya terhadap orangtua yang berselingkuh. hilangnya rasa respek tersebut bisa termanifestasi dalam banyak hal, diantaranya: si anak jadi melawan arus, kaku, sinis, selalu tidak sepaham, juga keras kepala. mekanisme semacam ini persis seperti yang dialami anak dengan orangtua yang berperilaku abusive.

jadi jelas kan, bahwa efek piramida berlaku di sini. dampak terparah dari perselingkuhan akan dialami oleh mereka yang berada di tingkatan terbawah dari piramida.


nah... sayangnya, belum lama ini, gue mendapat pengakuan bahwa ternyata dua teman perempuan gue sendiri adalah "madu beracun" :( sebut saja namanya mawar dan melati. keduanya cantik, bekerja, berusia jelang kepala tiga, tinggal terpisah dari orangtua, belum menikah, dan tau betul bahwa para lelaki yang mereka pacari itu telah membuat komitmen resmi dengan perempuan lain—si mawar menjalin hubungan gelap dengan seorang lelaki yang adalah pacar perempuan lain, sedangkan si melati menjalin hubungan gelap dengan seorang lelaki beristri yang telah berputra satu. jadi, baik mawar maupun melati sepenuhnya sadar dengan pilihan yang mereka ambil.

entah apa alasan yang membuat mereka berdua tetap bersikeras dengan pilihannya. seorang kawan kami yang lainnya—sebut saja bernama badu—berpendapat bahwa bila sudah melibatkan "rasa", maka akan sulit untuk mempertahankan "logika". sebuah premis yang lumrah ditemui, tapi mungkin bagi beberapa pihak, masih sulit untuk dipahami—apalagi oleh mereka yang belum pernah mengalaminya sendiri. menurut gue pribadi, bila mawar dan melati masih punya nurani, seharusnya ada rasa bersalah yang menghantui. ditambah dengan tanggapan berupa kecaman dan sindiran yang menyudutkan dari orang-orang di sekitar yang mengendus terjadinya perselingkuhan, maka seharusnya akan makin berat pula rasa bersalah yang jadi beban. memang, selalu ada konsekuensi atas setiap perbuatan yang dilakukan. itulah mengapa badu enggan menghakimi, enggan menyebut perselingkuhan yang dilakukan mawar dan melati itu sebagai hal yang salah atau benar. menurut badu, konsekuensi lah yang akan menghakimi diri mereka sendiri.

bicara soal siapa yang salah, sebetulnya perselingkuhan bukan mutlak kesalahan si perempuan "madu beracun", melainkan juga kesalahan si lelaki "kumbang berbisa". perselingkuhan bisa terjadi akibat partisipasi kedua pihak tersebut. seandainya salah satu pihak menolak "ajakan" berselingkuh dari pihak lainnya, maka perselingkuhan tidak akan terjadi. tetapi bila keduanya tak kuasa menolak gejolak "rasa" yang berakibat pada lumpuhnya "logika", maka perselingkuhan pun tak terhindarkan. sederhana, 'kan?

dari kasus mawar dan melati ini, gue cuma bisa berharap semoga "episode gelap" dalam kisah kasih mereka bisa segera selesai dan mereka siap untuk menerima apa pun konsekuensinya. lebih jauh, gue juga berharap semoga nggak ada lagi temen gue yang jadi perempuan "madu beracun" maupun lelaki "kumbang berbisa". semoga gue sendiri NGGAK mengalami hal serupa—diselingkuhin, jadi selingkuhan, maupun jadi pelaku perselingkuhan.

jadi kalo si cerdas, hifsan rahman nasution, bilang bahwa selingkuh merupakan salah satu bentuk relasi sosial, maka menurut ogut, perselingkuhan itu adalah suatu relasi yang sungguh sial!

No comments:

Post a Comment