Tuesday, October 22, 2013

Cerita [BUKAN] Rahasia!

Iya, memang bukan rahasia bahwa perempuan pada umumnya akrab sama yang namanya kosmetika. Kalo pun nggak kenal akrab, ya setidaknya tau lah, ya. Ada perempuan yang lebih suka tampil alamiah apa adanya, dengan alasan bahwa begitulah kecantikan yang sesungguhnya—kecantikan yang terpancar dari para perempuan sejak zaman bermula. Tetapi ada juga perempuan yang suka merias dirinya, dengan alasan bahwa begitulah cara mereka menjaga raga. Ratusan tahun yang lalu, para perempuan telah menggunakan dedaunan dan bunga untuk mewarnai kuku, menggunakan gerusan semut dan kumbang merah yang dicampur henna dan lilin lebah madu untuk memerahkan bibir, juga menggunakan galena serta serbuk hasil gerusan batuan kristal alam sebagai pembingkai dan perona mata. Tentu saja tujuannya mungkin berbeda-beda—ada yang melakukannya dalam upaya menarik perhatian dan menaklukkan pria, untuk meningkatkan kepercayaan dirinya, sebagai bentuk pemujaan terhadap dewa, dan ada yang melakukannya karena ingin menyenangkan diri sendiri saja. Terlepas dari itu semua, riasan atau kosmetika memang pada dasarnya bukan merupakan kebutuhan primer/utama. Karena siapa pun yang menggunakannya, pasti sudah memiliki pemahaman terhadap: ESTETIKA. Jadi, hidupnya bukan lagi sekedar: "agar bisa survive", tetapi sudah lebih meningkat kualitasnya menjadi: "agar bisa dinikmati".

Dari kecil, gue udah tau tentang ragam jenis riasan dan kosmetika. Bukan, bukan menjadi penggunanya, tentu saja. Cuma sering ngeliatin nyokap yang punya beberapa dan sering memakainya. Perona mata, perona pipi, bedak, pewarna bibir, jepit pelentik bulu mata, dan pensil alis adalah jenis yang paling sering gue liat di dompet riasan nyokap. Asiknya, setiap kali gue liat benda-benda berwarna cantik itu, gue jadi inget sekotak krayon, pensil warna, spidol warna-warni, atau cat air padatan yang selalu bikin mata gue berbinar-binar kegirangan! :D Hahahaha, dasar bocah visual yang hobinya corat-coret bagian belakang buku pelajaran dan buku catatan saat sang guru sedang asyik "mendongeng" di depan!

Nah, kesenangan gue terhadap warna-warni kosmetika perias muka ini rupanya nggak lantas bikin gue jadi gemar mengaplikasikannya—apalagi ke diri sendiri. Dulu itu selain hobi ngegambar orang lagi nari balet dan ngegambar toko rupa-rupa, ternyata gue hobi bikin katalog colour chart beragam riasan yang digambar sendiri! Hahahahaha... Gue membagi diagram warna dalam katalog bikinan sendiri itu ke dalam beberapa kategori: perona mata, perona pipi, dan pewarna bibir. Tampilan gambarnya berupa kotak-kotak kecil berisi warna yang gue bikin, dan di sebelahnya tertera nama warnanya. Mengarang bebas donggg gue pastinya! Hahaha, warnanya juga gue campur-campur gitu, nggak ada yang berupa warna primer. Ada marun kenguan, biru kehijauan, citrineturquoise, macem-macem, lah! Asik diliatnya! :D

Begitulah. Warna-warni yang terinspirasi dari berbagai warna riasan itu ternyata cuma berkelana di dalam kepala. Dalam kehidupan nyata waktu itu, gue sama sekali nggak pernah dandan. Kecuali waktu gue TK, pas ada lomba menari kalo nggak salah. Baru deh tuh nyokap mendandani gue dengan "peralatan perang"-nya. Yah, maklum, dulu kan masih anak sekolahan. Mana peduli sama rias-riasan? Ribet, malah bikin nggak pede, dan dulu tampilan gue memang tomboy, sih :p Tapi jangan salah, walopun ogah dandan, gue bisa ngedandanin orang. Jadi waktu itu pas ada acara, gue lupa tepatnya apa, pokoknya gue lagi sama temen-temen cewek. Mereka mau tampil dan perlu dirias. Karena orangnya banyak, tapi nggak ada yang bisa merias, akhirnya gue kumpulin semua perlengkapan riasan mereka dan gue minta mereka semua duduk. Terus gue keliling deh untuk mendandani mereka satu-satu. Hahaha... Mantep, 'kan? Untuk ukuran pemula, hasilnya oke, kok. Sejak saat itu, gue baru paham bahwa wajah manusia adalah kanvas yang PALING dinamis! Nggak ada yang sama! ;)

Tetapi bahkan setelah pengalaman itu, gue pun masih enggan berdandan. Selain nggak praktis, buat apa juga? Toh nggak ada acara apa-apa. Kecuali pas kondangan, jadi tim usher di acara Dies Emas ITB, sama pas dateng ke acara Jakarta Fashion Week, gue nggak pernah dandan. Cuma, menjelang dimulainya tahun terakhir kuliah, yaitu pas mulai proses pengerjaan Tugas Akhir, kok ya gue merasa kedua mata kayaknya makin sembap dan bengkak—keliatan kayak orang ngantuk, habis nangis, ato kurang tidur, gitu... Padahal emang kurang tidur, sih. Begadangan melulu, ngulik tugas ngehek. Akibatnya, gue harus melakukan sedikit koreksi, biar mata keliatannya melek walopun sebenernya capek :p Saat itulah gue mulai pake pembingkai mata. Eyeliner, istilahnya. Dipakai hanya di kelopak atas yang garisnya sejajar dengan bulu mata. Efeknya luar biasa! Mata gue nggak kayak orang teler lagi! Mwahahahaha... Sejak saat itu gue nggak bisa lepas dari jenis riasan yang satu itu. Kalo perlu dan kalo bisa, gue bakal tatoin deh tuh garis pembingkainya di kelopak mata, biar gue nggak perlu ribet-ribet pake eyeliner lagi!

Setelah lulus kuliah, mulailah gue pake alas bedak. Biasanya langsungan aja pake bedak doang sama pembingkai mata. Pas pindah ke Bali, gue pun mencoba pake BB cream, karena kata seorang teman [PRIA!] yang memakainya, efeknya ciamik. Gue sih mau coba karena lebih praktis. Krim tersebut mengandung pelembab, sekaligus pelindung dari efek buruk cahaya matahari, juga membuat warna kulit jadi lebih rata. Pokoknya korektif dan protektif. Sangat fungsional! Sayangnya, krim itu kurang cocok buat kulit gue yang udah berminyak walopun teksturnya ringan, alias tidak seberat alas bedak. Lebih jauh lagi, pilihan shade warna yang tersedia rupanya nggak ada yang segelap warna kulit gue! Kan bahaya, krim warna terang diaplikasikan ke kulit yang lebih gelap akan berakibat pada tampilan yang mirip topeng dan riasan lenong! :-O

Iseng-iseng, pas gue ke sebuah swalayan besar di daerah Kuta, gue liat ada produk bernama Covering Cream keluaran produsen kosmetika kesayangan para nenek kita sejak dulu kala: VIVA!!! :D Yakin dengan tagline-nya yang berbunyi, "Sesuai untuk daerah tropis", maka dengan keteguhan hati, gue pun berniat mencobanya [apalagi ditambah fakta bahwa nenek dan nyokap gue juga merupakan penggunanya, dan sampai sekarang nggak pernah mengalami efek buruk atau iritasi apa-apa]. Setelah lebih dulu bertanya kepada si mbak penjaga tentang pilihan warna paling gelap yang tersedia, akhirnya gue membeli sebuah. Harganya super murah. Cuma sekitar delapan ribu rupiah! :))) Ternyataaaaaaa... hasilnya luar biasa cetarrrrr membahanaaaa! Oke banget, maksud gue. Warna gelapnya passssss banget sama gelapnya warna kulit gue, bikin warna kulit jadi rata, menutup ketidaksempurnaan dengan sempurna, cukup ringan, nggak masalah bila digunakan tanpa bedak, tahan lama, daaaaan: MURAH harganya! Hahahahaha... krim ini lah juaranya!

Lalu pas gue berkunjung ke Bandung dan menginap di tempat Adel, gue pun berkenalan dengan Meity—sahabat sekomunitas yang ternyata adalah teman seperguruan namun beda jurusan. Cerita punya cerita, sambil ngobrol, kami pun saling membongkar dompet wadah riasan masing-masing! Hahahaha, ini hal wajib lho kalo cewek ketemu cewek :))) Meity lah yang menunjukkan bahwa Viva ternyata juga memproduksi perona mata dan perona pipi. Atas rekomendasi doi, gue pun berniat mencobanya. Syukurlah, di Bandung cukup lengkap ketersediaan produknya. Gue pun langsung membeli beberapa. Nggak banyak, cuma satu perona mata, satu perona pipi, dan satu pewarna bibir. Beberapa waktu lamanya setelah kembali ke Bali, gue beli produk Viva lainnya—berupa Milk Cleanser dan Face Tonic yang berfungsi sebagai pembersih wajah [tanpa bilas]. Lebih praktis, karena gue sering males kena air lagi kalo udah malem dan keburu ngantuk :p

Sejauh ini, itulah rangkaian kosmetika andalan gue. MURAH, fungsional, praktis [fungsi korektif dan dekoratifnya terpenuhi dengan baik], sederhana [nggak glamour], aman di kulit, matte—nggak berkilauan alias bertabur partikel kelap-kelip super kecil bagai glitter, dan cucoookkk sama tone warna kulit gue yang sekarang jadi lebih gelap dibanding sebelumnya. Sayangnya, untuk produk eyeliner [pembingkai mata] gue masih menggunakan merk lain yang bukan buatan Indonesia, karena memang cuma itu yang tersedia. Harganya mahal, pula. Semoga segera ada versi Viva-nya lah, ya. Biar lengkap koleksi gue. Oya, foto gue yang di Pura Gunung Kawi ini adalah contoh tampilan kalo kalian penasaran pengen tau gimana hasil aplikasi produk riasan Viva yang gue punya. Haha... yang mengherankan, dari sekian banyak jempol yang mengklik tombol Like, justru sebagian besar di antaranya adalah sesama perempuan!!! Wooo-hooooo... terbukti, 'kan? Nggak semua riasan itu digunakan untuk keperluan mencari pasangan! :-9



Terakhir, perlu gue klarifikasi bahwa ini bukan iklan ato promosi terselubung lho, ya. Sekedar berbagi pengalaman aja. Syukur kalo nanti ternyata di-endorse :p Kan lumayan, stok produk dari Viva selama masa endorse bakal terjamin. Hahahahahahahaha... dengan ini, gue sebagai Diva Viva 2013, mengucapkan: "Viva Viva!!!" :D